|
Monday, January 28, 2008
[i]
Sebagai prolog, sila baca nukilan yang menarik, dan sangat provokatif ini. Kemudian analisis komen-komen yang diberi (oleh para pengunjung). Lihatlah bagaimana keangkuhan para pembangkang totok. Well, I'm actually very impressed -- to observe how passionate they are. In hating the establishment!
Kumpulan yang ekstrim, desperado dan 'lapar' begini biasanya sangat pandir dalam mengawal dan mengimbangi kuasa. Kalau mereka ini tak reti berkompromi secara sihat dalam diskusi, bagaimana mereka boleh bertoleransi dalam hal-hal yang lebih besar. Misalnya, dalam aspek pemerintahan negara. Well, if they (ever) win. Take note: a very-very-very BIG if.
[ii] Tentang pilihanraya, terlalu banyak yang saya mahu tulis. Tapi saya masih berduka dengan kehilangan jam kesayangan (err.. ok, I know.. I'm being ridiculously sentimental shallow here!). Fikiran saya kurang jernih ketika ini. Saya tiada mood sangat mahu berpolitik. But lets get into it, anyway. J
Saya mulai dengan ayat retorik-lagi-bombastik ini: bahawa kebebasan maklumat di Malaysia hanyalah mitos belaka. Ya, kita semua tau tentang ini. Bukankah?
Suratkhabar, tv, dan radio memang dikawal oleh kerajaan. Dibantu agen-agen propaganda mereka. Justeru, ramai yang percaya bahawa teknologi internet (satu bentuk media info tanpa tuan dan sempadan) telah membuka laluan baru kepada pembangkang untuk lebih berdaya-saing.
Tidak. Itu hanya tanggapan karut. Alam siber bukan satu rahmat kepada pembangkang. Sebaliknya ia satu laknat paling sial. Kenapa? Kerana pembangkang tersilap pakai. Mereka guna media itu (tanpa sedar) untuk tunjuk kurap di punggung. Bukan untuk menayangkan lesung pipit yang cantik.
Dengan bantuan ICT, gerombolan parti pembangkang Malaysia telah ramai-ramai menjadi penari bogel di tepi-tepi jalan. Mereka izinkan seluruh dunia menyaksikan panau-panau hanyir di dalam celana mereka, yang dulunya hanya mereka dan keluarga mereka saja yang tau!
Cuba baca ini. Salah satu contoh klasik kenapa saya kata pembangkang tidak ada peluang langsung dalam pilihanraya umum kali ini. Mereka suka menangguk di air keruh. Mereka politikkan semua perkara. Tak ada sensitiviti. Bagi mana-mana manusia waras, itu satu taktik jijik. Yang mematikan selera undi.
[iii]
Ada orang meragui teori saya. Lalu si skeptik bertanya: macam mana kerajaan boleh menang besar dalam pilihanraya akan datang padahal ada banyak isu-isu yang besar sejak akhir-akhir ini?
Ya, saya setuju. Prestasi kerajaan sekarang (mungkin) tidak sebagus kerajaan yang dulu-dulu. Tapi pembangkang kita pada masa sekarang juga, jauh lebih jijik daripada pembangkang era yang lepas. Kedua-duanya (kerajaan & pembangkang) sedang merudum secara regresif. Bezanya, darjah jatuhan pembangkang lebih deras dan runcing.
Reputasi kerajaan jatuh secara janjang aritmatik. Kredibiliti pembangkang menjunam secara janjang geomatri. Meminjam teori pertumbuhan penduduk, gagasan Thomas Malthus.
Kadang-kadang saya gelihati melihat telatah pembangkang di Malaysia. Mereka ingat jadi 'pembangkang' ini macam pertandingan debat peringkat sekolah. Kalau jadi pembangkang, tugasnya hanya 'membangkang'. Semata-mata. Sekadar menunjukkan kelemahan dan menjatuhkan kredibiliti pihak lawan. Mereka sangka itu sudah memadai. Huh, pendekatan yang cukup dangkal, bengap dan lembab. Saya namai ini sindrom J-Ooi!
Ingat, pembangkang (dalam konteks survival politik) wajib menggalas tanggungjawab untuk membuktikan kapasiti dan kredibiliti. Beban politik mereka sama berat seperti yang ditanggung oleh kerajaan. Hello, just because you're the opposition -- doesn't mean you have nothing to prove (as far as substance goes)! Setakat dapat telanjangkan keburukan orang, itu belum cukup untuk membujuk rakyat supaya bersekongkol dengan kalian.
Apa yang rakyat mahu? Supaya gerombolan pembangkang beri bukti mereka mampu jadi penawar kepada kudis-kudis sedia ada. Bukan bakal menjadi kusta dan onar baru. So far, we have yet seen it. Seriously, I don't think the oppositions are interested to prove exactly that. Or worse, it's probably not even something they ever think of!
We can't do many things in life, unless we're born Superman. Yes, capital 'S'. That's why we need to set our priority right. Kalau terlalu sibuk menggali dan mencari tahi di rumah orang; bila masa dapat bersihkan rumah sendiri?
[iv] I, for one, would never abandon the current home just because someone manages to 'expose' how dirty and filthy it is. I have been living in 'this house' all my life. Yes, I'm fully aware of (and to certain extent, 'have accepted') its condition. Why do I need someone else to, so-tellingly, re-point out something I've already known for years? Pointless.
The thing that really matters is – for someone to assure me the new home is much better and cleaner. I believe most people do share this very same sentiment. That's the main reason why the oppositions keep losing (never mind, losing convincingly!), even though (prior to the election) all indicators seem to heavily favour them.
[v] Election is a battle, and a tough one.
It's like playing tennis in the grand-slam. A true champion should approach every match with the attitude of a champion. Fighting to win the match (i.e. to hit as many winners as possible); not just waiting for the opponent to lose it (i.e. hoping the rival to mishit as many errors).
The latter approach is only effective against weak opponents. When facing quality players and the match is close (which is expected in any grand-slam tournaments), you definitely can't win it by just being defensive. You have to create your own winner shots, and not just depending on the mistakes (of your opponent).
That's why Serena Williams has more grand-slam titles than Martina Hingis.
So, you see the difference? No? OK, some people are naturally born stupid. It's not your fault.
Posted at 6:43 pm by Rem
 |  |  | Name ARMAN September 3, 2009 03:12 PM PDT
aku piadap la tengok ayat2 dia ni kejap bahasa malayu kejap bahasa orang putih... perogol bahasa betul! |  |
  |  |  | mustika March 10, 2008 01:46 PM PDT
dr.Rem, mungkin peratusan kumpulan2 pengundi anda perlu satu semakan semula.....
mungkin
hardcore BA: 40%
hardcore BN:20%
floating voter: 40 % |  |
  |  |  | Mona February 13, 2008 09:06 AM PST
I really like your point number [iii]. Nail on the head! |  |
  |  |  | Rem February 8, 2008 03:31 PM PST
Mustika,
20% -- saya kata 'hard-core'. Those are the ones yang tidak boleh di-convert lagi!
Dan KALAUPUN betul 45% memang undi pembangkang (kalau betul la kan): the additional 25% voters come from the 60% floating voters. :) |  |
  |  |  | mustika February 8, 2008 01:12 PM PST
20 peratus hardcore pembangkang?
FYI, 45% pengundi memilih pembangkang. |  |
  |  |  | Rem February 6, 2008 09:07 PM PST
I don't think the government does have any sort of 'x factor' (what ever that stands for). But, neither does the opposition.
This coming election is not about who's going to win it. No. It's about who would lose it. It is going to be something... like a real bad tennis match. Where none of the two competing players are playing particularly well -- hitting errors all over the court, and can hardly produce any winner shots. To bluntly put it, neither player actually deserves to win. But naturally, the one with more errors will lose the match. And by default, we eventually got a winner.
That's the situasion.
The opposition has as many flaws as the government does. But the government, of course, has more substances (simply because it's the ruling party). So, bila dicampur, tolak dan bahagi -- [substances minus flaws] -- defisit kerajaan lebih rendah daripada pembangkang.
There're three types of voters in Malaysia:
- The hard-core pembangkang (20%)
- The hard-core kerajaan (20%)
- The floating voters (60%)
The hard-core 20% (for both sides) -- that wouldn't (and can't!) be the factor. Jungkir balik seribu kali pun, these groups will happily remain where they are! Kalau sudah pembangkang totok tu.. sampai mati akan jadi pembangkang. Begitu juga, fanatik kerajaan... tidak akan nampak sebarang kebaikan pembangkang.
Now, it's the 60% swingers that would be the key to victory. And yes, I'm one of those voters. These floating voters share some common characteristics:
- Kumpulan ini tidak suka sebarang elemen ekstrim -- sama ada ekstrim negatif (maki-caci) atau eksrim positif (puji-cacai). Mereka perlukan bujukan (dengan elemen-elemen yang berwibawa). Bukan perlu diumpan dengan sensasi dan spekulasi.
Dari segi strategi, pembangkang is totally out. Cara kempen diorang hanya sesuai untuk 'golongan 20% hard-core pembangkang' itu. Which is obviously pointless! You have already had these people in your camp -- why do you still want to focus on them?
Strategi kerajaan lebih sesuai (bukan sepenuhnya) untuk golongan floating voters. Kenapa? Sebab kerajaan tak nampak despeardo sangat. Kalau kerajaan mau desperado pun -- hanya dalam media perdana yang mereka kuasai secara totok. The problem is, these floating voters don't watch/read/access much all these propagandist media. Mereka lebih banyak baca internet -- yang menelanjangkan secara terang-terang kerakusan dunia politik pembangkang!
Sebab itu, ramai floating voters (majority of those 60%) will reluctantly decide to maintain the status quo -- simply because the opposition has successfully managed to SCARE them. Not because the government has been able to prove their worth.
80% penduduk Malaysia sekarang ini lebih banyak melayari internet sebagai bahan rujukan info, berbanding dengan media konvensional. That's a fact! Is that a good news for pembangkang? NO.
Contrary to popular belief -- sebenarnya internet berjaya menelanjangkan keburukan pembangkang lebih daripada membuku kejahatan kerajaan. Especially pada mata para floating voters. Trust me!
|  |
  |  |  | neutral February 5, 2008 11:05 PM PST
walaupun saya dicap "si skeptik", saya masih tidak dapat melihat dimana peluang kerajaan untuk menang besar seperti yang telah dijangkakan dalam entri2 lepas. dalam entri kali ini, you just show us the bad side of both opposition and government, without stating the "x factor" in the government side. i agree, the opposition are not doing a good job either. i still think the opposition ve a better chance. (they would not get to rule malaysia), but at least they will be winning more seats in the parliament. what do u think? |  |
  |  |  | Rem February 3, 2008 12:22 AM PST
FT, memang selalu begitu. Kalau kritik pembangkang saja, kita dicop pencacai kerajaan.
Sofwah,
Kalau kepingin.. ambik jah. Survival of the fitest. :)
Kony,
Itulah pasal. Pembangkang tak pernah dapat runtuhkan monopoli kerajaan. |  |
  |  |  | kony February 2, 2008 01:59 PM PST
FT, wah..hebat!
ndak sempat kita bergabang waktu bertemu di PENA. Apapun, saya tetap tatap lontaran fikrahmu lewat blog itu..teruskan.
tonini,tanggungjawab sama berat digalas...bukan bantai bangkang saja...perlu ada kesahihan .itulah pasal.. (ndak menang-menang!)he3. |  |
  |  |  | Sofwah February 2, 2008 12:30 AM PST
Salam,
Dr.Rem, kepingin bunga raya dalam jambangan...milik orang...
Heh.
(Oh tidak! Bermula semula mode jiwangku....) |  |
  |  |  | Faisal Tehrani February 1, 2008 09:14 PM PST
Salam,
Bila saya menyindir tokoh gelek haraki, ada saja manusia yang akan kata saya nak jaga kepentingan diri sebab itu saya kritik 'pembangkang'.
Saya kira kepentingan diri sebagai pengarang taklah sehebat kepentingan diri tukang gelek.
Wassalam |  |
  |  |  | Rem January 30, 2008 03:43 PM PST
Sofwah,
Dah habis mood jiwang. Sekarang mood nak 'raya' pula. Whatever the raya is. Sudah sedia untuk 'beraya'? :)
Anisah,
Barambang? Bila pula kamu kenal dia? Oh ok. You met him during the Idul Fitr last year. Baru ingat..
ZeeRoo,
Ya betul. Kerajaan pun ada kudis. Pembangkang juga penuh dengan nanah. So, terpulang pada kita cam mana nak buat 'timbang tara'. :)
Mardhiah,
Dah sampai China pula? Awak ni Mardhiah... tak lama lagi sampai Afrika pula. LOL! |  |
  |  |  | Sofwah January 30, 2008 11:48 AM PST
Salam,
Ok. dah abes mode jiwang gue... dah tiada lagi terdera-terdera ni semua...
(tapi Dr.Rem, puisi inggeris tu, dah jadi indah, kan, dengan cohudsoning? Antarlah mana-mana, if you get some money, split lah 50-50 with Anisah and me, heh)...
I like what you wrote "The thing that really matters is – for someone to assure me the new home is much better and cleaner."
It reminds me of a time when I took a module on politics and society - where the lecturer played with rubber bands in tutorials, concentrating on the possibly-exciting rubbery formations on his fingers, as he listened to us talk... or rather, bash... this one time, we kinda were having a field day bashing the "system", it was a Country-Bashing Day for us, heh... Then, the lecturer sighed and asked us - we were these early 20's know-it-all, you know? - he asked us one simple question, "So, what's the alternative?"
We suddenly didn't know anything.
I grew up that day.
Thanks to a lecturer with a rubber band.
lol.
Wassalam. |  |
  |  |  | Mardhiah January 30, 2008 09:59 AM PST
Saya sudah baca Gramsci, dan saya juga sudah sering melawat negara Cina virtually. CC saya melawat Beijing pada tahun 2002 dia kata ada banyak Masjid, halal food tak ada masalah.
Saya sejak tahun lepas on and off berfikir dari mana pula terbitnya "Komunism = etheism" tu? Agama itu candu? Aha mungkin Anisah teruja nak tolong Rem sediakan pelan tindakan alternatif untuk menefesto pembangkang melawan SDC ini. Lagi pun sudah di Islamkan dengan nama "kerajaan Kebajikan"
Bang, HA sudah kata kamu orang belum bersedia dari segi kejiwaan untuk SDC apasalahnya mencuba, at least cuba bantu mereka sediakan kertas kerja kempen. Dari depa dok melalut pasal VK Linggamlah, Altantuyala, dah perabeh duit rakyat pi bayar elaun-elaun saksi semua tu. Potong Q kes lainlah pulak tu semata-mata bagi bagi badut-badut politik ini merasa masuk TV, masuk paper! Hah skrip VK Linggam tu dah ada watak adiknya yang mental pula...waduh memang dah jadi soap opera dah.
Oh nota pada peminat blog ini yang perihatin dan risaukan saya masuk UMNO, tak pe Cik Anisah kita memang bagus, tinggal low profile je, tak nak belagak macam saya.
Saya ni bukan tak nak join you all, tapi saya kerja kuli batak kerajaan je. Kalu berenti masuk politik pembangkang, sapa nak bagi saya makan. Dah depa kata Komunis=tolak tuhan=Dajal Besar, idaklah berani saya nak explore idea "kerajaan kebajikan" tu lebih-lebih. Strok pula mak ayah saya kat rumah tu kang! hah you!
ok chow salah silap harap maafin |  |
  |  |  | zeeRoo January 29, 2008 11:06 PM PST
hello...dr.ram. topik perbincangan yg sungguh menarik. but u don't forget our government pun ada silapnya. tu sebab pemangkang melalak. anyway...undi di tangan rakyat. siapa yg rasa RM50 tu boleh hidup utk 5 tahun undilah parti tu... |  |
  |  |  | Anisah January 29, 2008 04:01 PM PST
Ran into Barambang last week whilst eating out with friends! Small world indeed.
On your current topic, my money's on the status quo remaining. |  |
  |  |  | Mardhiah January 29, 2008 12:36 PM PST
Dear, why don't u balun SDC cukup-cukup, instead membuat perbandingan pasal Janjang Arthmatic dengan Janjang Geometri, Sarena Williams dan Martina Hinggis.
Tulislah betapa SDC akan memusnahkan orang-orang pemalu elegent, yang tak tahan lasak melawan budaya hedonisme tu.
Walau bagaimana pun please bare in mind, that Tun M sudah keluarkan 9 cabaran wawasan 2020. Jadi haruskah kita find fault "kalau kita tidak banyak bersiap sedia dengan kekuatan jiwa" - mengambil ayat dari blog Hasydah Abadi.
|  |
|
|